Resensi terbaik 3 novel 9 Summers 10 Autumns

9 SUMMERS 10 AUTUMNS                                                                                                                               Dari Kota Apel ke The Big Apple

Novel karya Iwan Setyawan

sebuah kesan seorang pembaca

___________­­­­­­­­­­­­­­­­­­­_________________________________________________________________

Membaca buku “9 Summers 10 Autumns” yang ditulis oleh Iwan Setyawan, seperti diingatkan bahwa siapa kita saat ini, adalah apa yang kita alami di masa lalu, dan apa yang akan ‘menjadi’ di masa mendatang.

Dalam kalimat demi kalimat, pembaca bisa merasakan bagaimana ‘sesaknya’ dada Iwan melalui masa kecilnya yang penuh dengan cita-cita dan keingintahuan, tetapi harus berhadapan dengan ‘tembok tebal’ bernama kenyataan. Bagaimana juga ia dan kakak-kakaknya harus ‘berkompromi’ dengan keadaan di usia yang masih sangat muda.

Gaya penulisan yang jujur dan tanpa upaya mengundang pembaca untuk berempati, justru menjadi sangat menarik dan akan membuat pembaca merasa dada-nya terkoyak. Di sisi lain, keberhasilan-keberhasilan yang dicapai di kemudian hari dalam kehidupan Iwan, juga tidak dirasakan sebagai kesombongan. Tetapi lebih merupakan ‘hadiah’ yang memang layak untuk Iwan dan keluarganya dapatkan. Jadi tak heran jika kemudian Iwan pun kemudian berbagi kepada pembaca melalui cerita di 9S10! Saya yakin, setiap pembaca beroleh porsi besar yang tak akan pernah habis dinikmati.

Penokohan si kecil berseragam merah putih, sangat imajinatif. Dan menggambarkan bagaimana Iwan sebetulnya masih memiliki ‘tempat’ di sudut hatinya untuk selalu kembali dan berterimakasih kepada masa kecilnya yang telah membawanya menjadi seorang Indonesia yang menoreh sukses di New York.

Kedekatan Iwan dengan sang Ibu, juga ditulis dengan sangat menyentuh. Seperti yang saya rasakan di hal 35 melalui ungkapan yang tulus: “Ibuku, hatinya putih, ia adalah puisi hidupku. Begitu indah. Ia adalah setiap tetesan airmataku.”

Tetapi, kita pun tahu akhirnya tahu dari halaman demi halaman buku yang inspiratif ini, bahwa air mata adalah barang yang langka di keluarga bapak Abdul Hasim dan ibu Ngatinah. Bukan karena mereka hidup bahagia, tetapi karena ketegaran dan keikhlasan menjalani hidup, membuat mereka selalu bisa menikmati hidup apa adanya.

Secara keseluruhan, yang membuat novel ini menarik juga adalah cara penggambaran yang ‘berlompat-lompat’ tetapi sangat runtun, membuat buku ini menjadi memoir yang menyenangkan dan mengenyangkan.

Batu – Bogor – Jakarta – New York menjadi seperti borderless. Seperti bagaimana Iwan dan keluarganya memandang hidup. Semua dilakoni dengan ikhlas dan tulus, tanpa keluhan.

Pengorbanan yang dilakukan oleh Iwan, kakak-kakak dan adiknya, seperti sebuah penyambutan akan jalan hidup yang sudah tersurat dengan sukacita dan akhirnya mereka jadikan arena pengembangan perjalanan spiritual mereka.

Yang lebih menakjubkan adalah bagaimana orang-orang di sekeliling mereka, seakan juga sudah menyiapkan untuk Iwan dan sekeluarganya dengan berbagai macam ‘perlengkapan perang’ , seperti Mas Yani – guru teater yang membukakan dunia bagi Iwan sehingga menjadi pribadi yang percaya diri, Lek Tukeri yang tak pernah lelah memberikan ‘beasiswa’ selama Iwan berkuliah, hingga Mbak Ati yang membukakan jalan menuju New York.

Akhirnya, kita bisa paham, bahwa hidup adalah sebuah perjalanan yang harus dinikmati. Seperti yang diungkapkan oleh Iwan berulang-ulang di bagian akhir memoir-nya.

Aku tak bisa memilih masa kecilku.

Aku tak bisa memilih masa kecilku.

Tapi, rasanya Iwan tak perlu menyesal atas masa kecil yang tak bisa dipilihnya. Karena justru dari masa kecilnya, Iwan telah tumbuh menjadi seorang pribadi yang kaya dan berwarna. Dan menjadi sumber inspirasi bagi kita semua.

Jadi tidak perlu takut pada kehidupan, jika kita memperlakukan hidup dengan baik dan benar.  Seperti yang diungkapkan oleh Dostoevsky, penulis kesayangan Iwan.

Jakarta, 20 April 2011

Harry Setiawan


Resensi terbaik 2 novel 9 Summers 10 Autumns

RESENSI NOVEL:

9 SUMMERS 10 AUTUMNS

By: Nunung ND Heryuningsih

Congrats! Sebuah novel yang menghidangkan kisah nyata perjuangan perubahan nasib seorang lelaki lugu dan sederhana dalam kurun waktu melampui 9 musim panas dan 10 musim gugur dari sebuah kota kecil hingga kota metropolitan, yang membuai angan dan menggiring imajinasi pembaca untuk ikut merasakan perjuangan hidupnya yang dimulai dari suatu titik kepapaan hingga menggapai binar kesuksesan.

Kisah-kisah sebuah kehidupan bersahaja yang disajikan dengan aroma kejujuran dilengkapi dengan bumbu-bumbu cerita yang diracik secara detil dan indah, dipadu dengan sekelumit misteri dari sosok sahabat kecilnya yang tak pernah terungkap nyata jati dirinya hingga akhir cerita, sehingga berhasil menghilangkan sangitnya rasa kebosanan mengikuti gerakan lamban perubahan kehidupannya.

Pembaca digiring untuk ikut terlarut mengikuti setiap jengkal langkah-langkah kecilnya, menyusuri perjalanan membelah dunia untuk menaklukkan mimpi-mimpi besar indahnya menuju petualangan hidup dan dunia kerjanya yang baru. Kita bagai ikut merasakan nikmatnya menyeruput kehangatan cinta keluarga mendekap kehidupan sederhananya, menyisir setiap sudut keindahan kota New York, dan ikut mengalami kerasnya perjuangan hidupnya yang tidak pernah luput diselimuti ketabahan, diwarnai semangat kerja keras untuk menyelesaikan pendidikan dan meniti jenjang karir pekerjaannya.

Sampai pada akhirnya kita tiba dibawa pada suatu moto hidup yang sangat inspiratif agar kita tidak pernah perlu merasa takut untuk menaklukkan sebuah kehidupan!

Jakarta, 16 April 2011


Resensi terbaik 1 novel 9 Summers 10 Autumns

R E S E N S I          N O V E L

9 Summers 10 Autumns

Dari kota Apel ke The Big Apple

Judul: 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel ke The Big Apple

Penulis: Iwan Setyawan

Jumlah Halaman: 221 halaman

Tanggal selesai dibaca : 17 April 2011

Iwan Setyawan adalah putra seorang sopir angkot Abdul hasim dan Ngatinah seorang wanita tangguh yang tidak tamat Sekolah Dasar namun unggul dalam mengelola keuangan keluarga.  Iwan  menghabiskan masa kecilnya dalam sebuah rumah yang berukuran  mungil di kota Apel daerah malang, Jawa timur.

Di tempat itulah dia mengukir masa kecilnya bersama 4 saudara perempuannya tanpa boneka, mobil-mobilan, bahkan buku cerita. Hanya bertemankan televisi hitam putih dan tempat tidur buatan ayah tercinta yang terbuat dari bambu berukuran mungil di sudut ruangan tamu merangkap ruang keluarga.

Di buku ini diceritakan bagaimana kakak dan adiknya menjadikannya terispirasi untuk menjadi pintar dan keterbatasan ekonomi memicunya untuk maju. Sebagai  anak laki-laki satu-satunya yang hidup di rumah kecil tanpa memiliki kamar, membuatnya bercita-cita untuk memiliki kamar sendiri sampai akhirnya ia menjadi Director, Internal Client management di nielsen Consumer Research, New York selama 10 tahun.

Iwan juga mengisahkan perjuangannya untuk bisa kuliah di IPB dan memperoleh pekerjaan hingga menjadi seorang direktur dengan gelar lulusan terbaik.

Novel ini dikemas dalam cerita menarik dengan bahasa yang ringan dan lugas. Pembaca seperti membaca sebuah buku harian atau mendengarkan cerita seorang teman terutama dengan munculnya seorang tokoh cilik berseragam merah putih yang seolah menggambarkan sisi masa lalu, masa kecilnya yang selalu mendampingi dan mengisi kekosongan hatinya di tengah hiruk pikuk kota terbesar di Dunia, New York.

Sebuah novel yang menyentuh, dan menjelaskan bagaimana sebuah keluarga yang saling mendukung satu sama lain dapat mengalahkan keterbatasan ekonomi dan mengilhami seseorang untuk dapat menggapai sukses dengan semangat, kegigihan dan kesabaran dalam meniti hidup.

Novel ini adalah gambaran seorang ayah yang bekerja keras membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, seorang ibu yang dengan kelembutan dan cinta kasihnya mampu melindungi anak-anaknya. Seorang kakak yang rela meletakkan masa depannya di atas bahu adiknya dan berharap adiknya mampu melanjutkan cita-citanya. Seorang adik yang sayang dan hormat terhadap kakaknya serta ikut membantu memikul beban keluarga.

Novel ini sangat baik dibaca oleh anak-anak Indonesia yang mayoritas masih hidup dalam keterbatasan ekonomi dan kekurangan di beberapa daerah, karena penulis sanggup memaparkan kombinasi dari sisi kelemahan dan kelebihannya dengan luwes  sehingga mampu menyemangati seseorang untuk terus menggapai citanya sekalipun hidup serba dalam keterbatasan.

From Zero to Hero, Salute for Iwan Setyawan….!!!

Salam,

Henny Sapardi


Buku Pilihan Redaksi Bulan April 2011

Bundelan kertas penting yang disesaki hikayat kerja keras, kehangatan keluarga, dan perantauan. Sungguh sebuah praktik man jadda wajada yang terang. Selamat mereguk semangat perjuangan dan kesabaran anak sopir angkot di sudut Jawa Timur yang berkilau di New York. Inspiratif.
A. Fuadi, Penulis best seller trilogi Negeri 5 Menara

….most of all it is a story of dreams come true, sharply focused by a person who knows what he wants. Certainly very relevant in today`s world which needs the dose of positive energy that Mr Iwan Setyawan delivers.
Wimar Witoelar, Authority in journalism, public relations and communication

Menggugah. Iwan berhasil membahasakan dengan ringan dan renyah bahwa pendidikan dan determinasi hidup adalah sahabat sejati perbaikan nasib manusia.
Anas Urbaningrum, Penulis, pencinta kuliner nusantara, politisi

Kisah Iwan menjadi bukti nyata tentang efek pendidikan.
Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina dan Ketua Indonesia Mengajar


  • Ukuran: 13.5 x 20
  • Tebal: 238 halaman
  • Terbit: Februari 2011

 


Pecinta Buku

Para Pecinta Buku, acara eve’s Book Club memang tidak lagi diadakan sebulan sekali, tetapi menjadi tiga bulan sekali. Namun, karena selama dua tahun ini komunitas eve’s Book Club bisa dikatakan telah terbentuk, kami berharap komunikasi yang telah terjalin tetap dapat dipertahankan dan mudah-mudahan dapat berkembang ke arah yang semakin baik. Untuk itu, kami pun membuat blog  yang akan memuat buku fiksi pilihan editor eveIndonesia setiap bulan.

Para Pecinta Buku tentu saja dapat berpartisipasi untuk mengisi blog tersebut, baik melalui komentar pendek maupun lewat tulisan berupa tinjauan (resensi) buku pilihan kami itu. Untuk yang terakhir, penulisan resensi tersebut, kami akan menyediakan bingkisan yang menarik untuk lima resensi terbaik, menurut penilaian kami. Resensi bisa dikirim ke pr@eve-indonesia.com. Karena ada hadiahnya, penulisan resensi diberi tenggat waktu, yang setiap bulannya akan kami umumkan di blog. Nama-nama pemenangnya juga hanya akan diumumkan lewat blog itu.

Kami tunggu partisipasi Anda semua. Semangat!